Oh ya, namaku *****, teman-teman biasa
memanggilku Celyn, umurku saat ini menginjak kepala 3, tapi aku belum menikah
karena masih menikmati hidup tanpa ikatan, tapi bukan berarti aku tidak punya
pacar. Pacarku namanya Josh, di kerja di perusahaan trading. Kami sudah
menjalin hubungan selama satu setengah tahun.
Kok jadi ngomongin diriku ya? (narsis banget ya?). Anyway, aku segera bangun untuk
bersiap-siap. Aku segera menuju kamar mandi. Seperti biasa, aku langsung melepas piyamaku.
Setelah tidak ada sehelai benangpun di tubuhku, akupun mulai menggosok gigi.
Sambil menggosok gigi, kuperhatikan tubuhku dicermin yang ada dihadapanku.
Tubuhku memang montok, apalagi di bagian pinggul karena aku hampir tidak ada
waktu untuk fitness, tapi toh aku tidak perduli, aku bahagia dengan tubuhku
ini. Sambil menyikat gigi ku pegang buah dadaku, yang menurutku biasa saja,
tapi tidak menurut teman-temanku. Menurut mereka buah dadaku seperti mau
tumpah, mungkin karena aku selalu memakai bra yang tidak menutupi semua buah
dadaku. Aku terus meraba buah dadaku sambil terus menyikat gigi, rasanya
geli…lama-lama aku justru lebih fokus
pada remasan tanganku daripada menyikat gigiku. Akhirnya aku
tersadar…kuputuskan menghentikan kegiatan menyenangkan diriku itu lalu bergegas
bersiap-siap.
Setelah memasukkan barang ke mobilku, aku segera melaju ke arah tol menuju Bandung.
Sebelum berangkat aku sempat meminta alamat Vina, dan dia segera mengirim SMS
alamat lengkapnya. Bukan sekali ini aku ke kota Bandung, tapi Baru dua minggu
yang lalu Vina pindah rumah ke daerah CL, dan aku tidak tahu sama sekali dimana
itu. Aku pikir toh nanti bisa tanya
sama orang di jalan.
Sesampainya di Bandung, aku mulai mengikuti petunjuk SMS Vina untuk menuju ke rumahnya,
tapi…jalanan di kota Bandung ini sangat membingungkan. Setelah berputar-putar aku
memutuskan untuk bertanya. Di depanku aku melihat kerumunan anak SMP yang baru pulang sekolah, aku
lalu meminggirkan mobilku untuk bertanya pada salah satu dari antara mereka.
“Oooh…dari sini lurus terus nanti ada toko CK, tante belok kiri terus belok
kanan, nanti belok kanan lagi, terus ambil kiri, terus ada tanjakan belok ke
kanan. Naik terus nanti tanya aja lagi sama orang disitu”, dia memberikan
penjelasan panjang lebar.
Diberi penjelasan seperti itu aku langsung kebingungan, tanpa pikir panjang aku
langsung minta tolong padanya.
“Aduh, tante bingung nih! Kamu bisa anterin aja ga? Nanti tante kasih ongkos
pulang” kataku.
Dia seperti kebingungan.
Aku pun berkata, “Tenang ga akan diculik
kok”, kataku sambil tersenyum.
Dia makin kelihatan kebingungan.
“Kalo kamu takut, ajak saja temen kamu”, aku meyakinkannya, karena aku sudah
pusing mencari alamat Vina.
Akhirnya dia setuju dengan syarat boleh mengjak temannya dan diberi ongkos
pulang.
Dia pun mengajak dua orang temannya. Aku menyuruh salah satu dari mereka untuk
duduk di depan sebagai penunjuk
jalan, lagipula aku tidak mau dikira sepagai sopir antar jemput anak
sekolahan
Didalam mobil aku berkenalan dengan mereka. Yang duduk didepan bernama Fariz,
sedangkan dua temannya yang duduk dibelakang bernama Dharma dan Aziz. Dari
obrolan kami ku ketahui mereka baru kelas 2 SMP.
Selama perjalanan kuperhatikan mereka semua mencuri-curi pandang tubuhku. Saat
itu aku mengenakan tank top biru muda dan hot pants
yang sangat mini dan tipis. Yang paling kuperhatikan tentu saja Fariz karena
dia duduk didepan. Setiap kali kuperhatikan dia langsung membuang muka, karena
takut ketahuan olehku. Umur-umur segitu anak cowok memang memiliki fantasi seks
yang luar biasa. Fariz terus saja mencuri pandang buah dadaku yang “luber”.
Akhirnya kuputuskan kubiarkan saja mereka melihat payudaraku, kupikir sebagai
bahan masturasi mereka nanti…
Akhirnya sampai juga kami di rumah vina.
Vina langsung menyambutku, tapi dengan tatapan heran.
“Siapa itu Cel?”, tanyanya.
“Oh..mereka guide”, kataku sambil tersenyum pada mereka.
“Masuk dulu yuk!”, ajakku pada mereka. “Ga buru-buru kan?”, tanyaku lagi.
Akupun mengambil tas kecilku. Aku dan Vina masuk mendahului mereka.
Rumah Vina menurutku sih villa, bukan rumah- berada didaerah yang elite,
sehingga jarak antar tetangga tidak terlalu dekat.
Vina juga hidup sendiri, sama seperti aku. Dia editor sebuah majalah wanita.
Begitu masuk rumah, Vina langsung menunjukkan kamarku, “kamar lo di atas ya
Lyn, yang itu tuh”, katanya sambil menunjukkan kamarku.
Kita ngobrol dibawah yuk, katanya kepada ketiga anak itu sambil turun menuju
ruang tamu.
Aku pun menuju kamarku, ketika baru teringat bahwa aku lupa membawa tas yang
berisi pakaian.
Aku pun memanggil Fariz, “Riz, bisa minta tolong ambilkan tas tante yang hitam
di mobil?”.
Fariz tampak terkejut, “Bisa tante”.
“Tau cara bukanya kan?”, tanyaku lagi.
“Tau kok!”, jawabnya.
Akupun memberikan kunci mobilku kepadanya.
Akupun menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu dan
menuju kamar mandi, aku sudah tidak tahan menahan pipis sejak di tol tadi.
Ketika aku baru melepas hot pants dan celana dalamku, tiba-tiba Fariz masuk.
Akupun terkejut. Sial, aku lupa mengunci pintu kamar dan lupa menutup pintu
kamar mandi karena sudah tidak tahan.
Fariz tampak terkejut melihatku ngangkang sedang duduk di toilet, “Ma..maaf
tante, saya lupa mengetuk pintu”. Dia terpaku di depan pintu.
Cepat-cepat kubilang padanya, “Udah cepet masuk tutup pintunya, tar keliatan
orang!”.
Masih kebingungan diapun masuk dan menutup pintu, matanya masih terpaku padaku.
“Lihat apa kamu?”, tanyaku menyadarkannya.
“Eh..ngga liat apa-apa tan”, katanya sambil membalikkan badan.
Setelah selesai akupun berkata padanya, “Maaf ya, tante lupa kunci pintu”.
“Ng…ga pa pa tan, saya keluar dulu”, katanya.
Busyet polos amat anak ini, pikirku. Tiba-tiba muncul niat isengku, melihatku
pipis saja sudah kebingungan bagaimana kalo melihatku bugil?
“Riz, tante bisa minta tolong lagi ga?”, pertanyaanku menghentikan langkahnya.
“Bi..bisa tan”, rupanya dia masih shock.
“Tolong pijitin tante dong, tante pegel nih nyetir dari Jakarta”, tanyaku.
Rupanya permintaanku ini lebih mengagetkannya. Niat isengku semakin
menjadi-jadi.
“Nanti tante tambahin deh ongkosnya”, tambahku lagi.
Rupanya kata-kataku yang terakhir ini membuat dia tersadar.
“Bo..boleh deh tan”, katanya.
Aku pun memanggil V untuk meminta lotion untuk membalur tubuhku.
“Mau ngapain lo?”, tanya Vina setengah berbisik kepadaku.
“Mau tau aja”, kataku kepadanya.
Vina yang merupakan petualang seks sejati langsung mengerti maksudku.
“Bisa aja lo cari variasi”, katanya lagi. “Bisa ikutan dong?”, tanyanya.
“Tuh masih ada dua lagi”, kataku sambil menunjuk Dharma dan Aziz.
“Wah cerita baru buat blog gue nih”, katanya bersemangat.
Diapun memberikan lotion kepadaku.
Akupun menutup pintu tanpa kukunci, toh tidak ada siapa-siapa selain kami
berlima dirumah ini.
“Nih lotionnya”, kataku sambil menyerahkan lotion kepada Fariz.
Akupun menuju kamar mandi, lalu keluar lagi dengan hanya mengenakan handuk. Aku
telah melepaskan semua baju serta pakaian dalamku. Perasaan ini mulai membuatku
bergairah.
Fariz tampak terkejut melihatku, karena handuk yang kukenakan benar-benar hanya
menutupi payudara dan kemaluanku saja.
Aku pun berbaring telungkup di tempat tidur dan menurunkan handukku sehingga
hanya menutupi bagian pantatku saja.
“Ayo..tunggu apa lagi”, kataku kepada Fariz yang tampak tertegun melihat
tubuhku yang hampir telanjang.
Diapun duduk disebelahku dan mulai menuang lotion ke atas punggungku. Fariz pun
mulai memijitku.
Aku berusaha memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian.
“Kamu sekarang kelas 2 SMP ya. Udah punya pacar?”, tanyaku.
“Be..belum tan”, jawabnya gugup.
“Kamu kok grogi gitu? Belum pernah mijit cewek ya?”, tanyaku jahil.
“Be..belum pernah tan”, jawabnya singkat.
“Udah..kamu pijit kaki tante aja, soal pegal”.
Farizpun mulai memijit kakiku.
“Agak keatas sedikit Riz”, kataku sambil mengarahkan tangannya ke pahaku.
Dia tampak semakin gugup.
Pijatan didekat daerah kemaluanku membuatku secara tidak sadar melebarkan
pahaku, menurutku Fariz dapat melihat bulu kemaluanku yang tidak terlalu lebat
itu.
“Tapi kamu pernah masturbasi kan?”, kataku mulai memancing.
“Mmm….”, dia terdiam.
“Pernah tan”, jawabnya pelan.
Kamipun terdiam.
“Agak keatas lagi Riz”.
Farizpun memijit dekat pantatku.
“Udah pernah ML?”, kataku makin tak tahan karena terangsang.
“Be..belum tan”.
Wah perjaka batinku. Aku pun menarik handuk yang menutupi pantatku sehingga
kini aku benar-benar bugil.
Fariz benar-benar terkejut melihatku.
“Sekarang pijitin pantat tante aja, dari tante duduk nyetir terus”.
Farizpun mulai memijit pantatku yang montok bersih itu. Akupun makin lama makin
melebarkan kedua pahaku alias ngangkang.
“Riz…”.
“Iya tan”.
“Kamu mau pegang ‘itu’ tante?”, tanyaku nakal. “Pegang aja Riz, ga pa pa kok”,
pancingku lagi.
Fariz memindahkan tangannya dari pantatku kearah kemaluanku. Dia mulai memegang
bulu kemaluanku. Nafsuku makin tidak tertahan.
“Gerakin tanganmu maju mundur Riz”, kataku mengarahkan.
Arizpun mulai menggerakkan tangannya di atas kemaluanku. Gesekan antara
tangannya dan bulu kemaluannya makin membuat vaginaku basah. Akupun sedikit
menunggingkan badanku untuk mempermudah tangan Fariz bermain di atas
kemaluanku.
“Masukin jari tengah kamu Riz”, pintaku setengah memohon.
Farizpun mulai mengerti jalannya permainan ini. Dia mulai memasukkan jari
tengahnya kedalan vaginaku sambil terus menggosok-gosoknya. Sentuhan tangannya
sesekali menyentuh klitorisku, dan itu makin membuatku bernafsu.
Suaraku makin lama makin meracau karena keenakan.
“Iya Riz..yang itu. Gosok ‘itu’ tante Riz”.
“Yang mana tante?”, katanya polos.
Akupun tersadar, dia masih terlalu polos.
Lalu aku membalikkan tubuhku, sehingga Fariz kini dapat melihat seluruh tubuhku
yang telah bugil dengan leluasa.
“Kamu mau pegang payudara tante?”, tanyaku sambil memegang kedua tangannya dan
mengarahkannya ke kedua payudaraku. Aku meremas tangannya sehingga tangannya
itu meremas kedua buah dadaku.
Setelah meremas-remas buah dadaku, aku pun menarik kepala Fariz dan
mengarahkannya ke dadaku. Diapun mulai menjilati putingku, mataku terpejam
akupun makin mendesah tidak karuan.
“Oouuh…aaahh…euuhhh…ooouuuuuhhhhhh”, aku mulai liar.
Tanganku tidak tinggal diam. Aku mulai meraba celana Fariz dan memegang
kemaluannya yang aku yakin sudah tegang dari tadi. Tanganku menarik
retsletingnya dan mengeluarkan kemaluannya. Tidak terlalu besar, hanya sedikit
lebih panjang dari genggamanku, mungkin karena ia masih kelas 2 SMP. Tanganku mulai
memainkan kejantannya, aku mulai mengocoknya.
Akhirnya aku berhenti. Akupun duduk dan mulai melucuti seragam Fariz. Kulihat
badannya yang masih polos itu. Kemaluannya baru sedikit ditubuhi bulu-bulu
halus. Aku menyuruhnya terlentang. Akupun mulai melakukan oral kepadanya dalam
posisi berlutut.
“Hmmph...mmph…mmphh”, suara mulutku yang sedang mengulum batang kemaluannya
sambil tanganku memainkan kedua bolanya.
“Aahhhh…ahhhh…enak tan”, Fariz berteriak keenakan.
Fariz merubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Tangannya kini memainkan buah
dadaku. Sesekali aku berhanti mengulum batang kejantanannya untuk menikmati
remasan tangan Fariz. Tangan kiriku kini beralih memainkan klitorisku. Aku
benar-benar menikmati semua ini.
Tiba-tiba Fariz berteriak,
“Aa..aa..aaahhhhh, geli banget tan. Aaahh..aaahh…aaahhh…ma..ma..ma u
kkkelluuaaarrr”, aku makin mempercepat mulutku dan makin menghisap kuat-kuat
batang kejantannya.
Tidak berapa lama…..
“AAAAHHHHHHH…AAAHHHHHH…AAAAHHH HHH”, Fariz mengeluarkan cairan spermanya
didalam mulutku. Aku sempat terkejut, karena banyak sekali cairan sperma yang
dikeluarkan anak kelas 2 SMP ini. Tapi itu kupikir karena jarang sekali
bermasturbasi.
Sperma yang telah dikeluar didalam mulutku ku keluarkan lagi ke atas batang
kemaluannya, hanya untuk kuhisap lagi. Fariz terlihat begitu menikmati oral
seks ini. Akhirnya kutelan semua sperma Fariz, dan kuhisap lagi kemaluannya
untuk membersihakan sisa-sisa spermanya.
“Enak Riz?”, tanyaku puas.
“Enak banget tante. Beda ya sama masturbasi”, jawabnya polos.
Aku hanya tertawa sambil menjawab, “ada yang lebih enak, mau?”.
Akupun mulai mengulum kembali batang kejantanan Fariz yang telah terkulai. Aku
sengaja melakukan oral terlebih dahulu kepada Fariz, supaya nanti saat
permainan utama dia tidak cepat ‘keluar’. Pelan-pelan aku mulai menjilati
kemaluannya. Posisi Fariz kini tiduran kembali dengan kedua kaki diangkat,
sehingga kepalaku berada dikedua pahanya. Jilatanku mulai berubah menjadi
kuluman. Semakin lama semakin cepat, akupun mulai memperkuat hisapanku pada
kepala penisnya. Sesekali paha Fariz menjepit kepalaku menahan rasa geli di
penisnya. Ketika penis fariz telah berdiri lagi aku menghentikan oralku.
“Eh..kenapa tante?”, tanyanya heran.
“Gantian dong, masa kamu aja yang enak?!”, kataku.
“Maksudnya?”.
Akupun mulai berbaring dan menarik Fariz ke pelukanku. Akupun mulai menciumnya.
Mula-mula dia seperti risih, tetapi permainan lidahku mulai mengajarinya untuk
berciuman. Kami terus berpelukan sambil berciuman, sesekali penisnya menyentuh
klitorisku dan ini membuatku makin menggila. Puas berciuman aku mengarahkan
kepalanya ke bauah dadaku. Kini Fariz telah tahu apa yang harus dilakukan.
Nafsuku makin tak tertahan. Aku mengangkat kepala Fariz, “Riz, jilatin ‘itu’
tante”.
“Yang mana tante?”.
Aku mengambil posisi bersandar pada pinggiran tempat tidur. Kutekuk pahaku dan
kubuka lebar-lebar pahaku. Kedua tanganku memegang vaginaku, jari-jariku
menyisir bulu kemaluan. Setelah terlihat jelas kemaluanku yang telah basah dari
tadi, kutunjukan klitorisku dengan kedua jari telunjuk.
“Yang itu Riz, jilatin ‘itu’ tante”, pintaku setengah memelas.
“Yang ini tante?”, katanya sambil menyentuh klitorisku.
Sontak aku menggelinjang, sentuhan tangan Fariz pada klitorisku membuat tubuhku
seperti melayang.
Dia tampaknya menikmati hal ini.
“Yang ini ya?”, tanyanya lagi sambil mulai memainkan klitorisku.
“Aaaahhhh…ii..iiyyaaa…yang itu. Ka..kha..kamu nakal ya”, kataku mulai
terengah-engah.
“Aaaahhhh…oouuuhh….uuuhhhhh….j ilatin aja Riz”, kataku tak tahan sambil
menurunkan kepalanya kekemaluanku.
Fariz mulai menjilati vaginaku, mula-mula meras aneh, mungkin karena aroma khas
vagina yang telah basah. Akupun makin melebarkan pahaku, sambil tanganku
membuka vaginaku agar tampak klitorisku oleh Fariz.
“Jilatin yang ini Riz”, kataku sambil menunjukkan letak klitoris.
Fariz mulai menjilati klitorisku dengan lidahnya. Akupun memegang kepalanya dan
menggerakkan kepala Fariz naik turun di atas klitorisku. Gerakan lidah Fariz
yang kasar menari diatas klitorisku membuatku hampir mencapai orgasme.
Cepat-cepat kuangkat kepala Fariz dan kutarik badannya kearahku. Dengan tisak
sabar kupegang batang kemaluannya yang telah keras kembali, kuarahkan ke
vaginaku.
Cllep…bleessshhh…penisnya langsung masuk kedalam vaginaku yang sudah semakin
basah.
“Aaaaahhhh…”, teriakku.
Aku mulai memegang pinggang fariz dan menggerakkannya maju mundur.
Plok..plok..plookk…cloopps…clo oppss….suara selangkangan kami beradu ditengah
semakin banjirnya cairan vaginaku.
“Ooooohhh…aaahhhhh…aaahhh…..aa ahhh….aaaa..aaaaa….aaaahhhh…te rus
Riz…eennaaak”, teriakku.
Aku mulai manarik-narik rambutnya, sambil sesekali kuciumi Fariz dengan brutal.
“Hmmmppph..hmmmppp…aahhhh..hmm pphh…ooohhh….ohhh yyeesss..hmmmppphhhh”.
Kakiku kini melingkari pinggang Fariz agar penisnya bisa masuk sedalam-dalamnya
kedalam vaginaku. Tubuhnya menempel dengan tubuhku, kamipun bermandikan
keringat. Sensasi bersetubuh dengan bocah polos yang masih perjaka ini
benar-benar membuatku bernafsu. Tangan Fariz mulai memainkan kembali buah
dadaku. Tidak berapa lama aku merubah posisi. Aku berjongkok di atas Fariz. Ku
pegang penisnya dan kumasukkan kedalam vaginaku.
Plok..plok..plok..vaginaku berbunyi karena sangat basah.
Kugoyangkan badanku maju mundur, penis Fariz melesak penuh kedalamku. Goyangan
ini makin menggesek klitorisku.
“Aaahhhhh…ooouuuhhhhh….eenaaaa kkkkkk”.
Aku tahu sebentar lagi fariz akan ejakulasi yang kedua, sehingga aku marubah
posisiku menjadi “doggy style”. Tubuhku bersandar pada sandaran temapt tidur.
Fariz tanpa permisi langsung memasukkan penisnya dengan tidak sabar.
“Ah!” jeritku.
Fariz makin tidak sabaran. Dia terus memompa vaginaku dengan batangnya, batang
yang baru sekali ini merasakan nikmatnya dunia. Dia terus menggerakkan tubuhnya
maju mundur, makin lama makin cepat, sambil tangannya memegang pinggulku.
“Ah..ah..ah…teerrruuus Riz….terruuusss…..aaaaahhhh”.
“Tan, Faarriizz maau kke…..lluaarr….giimaannaa nihhhh…..aahhhh…ahhh?”.
“Ahhh…aahhh…kkee…ahh…keeluaari nn aja Riz…aahhhhh”.
Plok..plook…clooppss….cloppss… .
Akupun mulai bersiap meneriam muntahan sperma fariz didalam vaginaku, akupun
mulai mencapai orgasme yang sejak tadi kutahan.
“Aahhhhh…tteerrruuussss Rizzzzz…tante ju….Ah!..ga mau
keeluuuarrr……aaahhhhh…terusss” .
Fariz terus mempercepat kocokan penisnya di dalam vaginaku.
“aahh…ahhh..AAAAHHHHHHHHH….!!! !”
Fariz memuntahkan seluruh spermanya didalam vaginaku. Kurasakan semprotan
kuatnya di dinding vaginaku, seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Vaginaku
langsung terasa hangat dan basah oleh cairan spermanya, tapi aku tidak
menghentikan goyangannya. Tidak berapa lama….
“Oh…oh…oh…ah..ah..ah..ah..ah.. AAAAHHHHHHH!!!!”, akupun berteriak karena
orgasme.
Vaginaku makin basah oleh karena cairan kami berdua. Aku tidak membiarkan Fariz
melepaskan penisnya dari vaginaku, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku.
“Gimana Riz, lebih enak dari yang tadi kan?”, tanyaku.
“He..he..he..iya tan, jauh lebih enak”, jawabnya sambil mengikuti goyangan
pinggulku.
Bersamaan dengan mengecilnya penis Fariz, keluar jugalah cairan spermanya dari
dalam vaginaku. Cairan sperma itu langsung menempel pada kami berdua. Aku
langsung berbalik dan menghisap cairan sperma yang ada pada penis Fariz.
Sambil merasa kegelian Farisz berkata, “Makasih ya tan, ga rugi nganterin
tante”.
“Aku juga ga rugi dianterin kamu”, jawabku singkat lalu kembali mengulum penis
Fariz.

buat tante2 yang butuh belaian kehangatan ato yang mau merasakan sensasi 3 in 1, hub ak ya di 081231845006
BalasHapus